Nama
: Gerry May Biantoro
Npm : 33113688
Kelas : 3DB10
Makna Kesuksesan Yang
Sebenarnya
Rasanya tidak ada kata yang paling
diingat oleh manusia kecuali kata ‘sukses’ dan ‘gagal’. Dua kata ini paling
diingat karena manusia hidup diantara dua kontinum kata tersebut. Perjalanan
hidup manusia adalah perjalanan menuju sukses dan menjauhi kegagalan.Sukses
adalah kondisi dimana Anda berhasil meraih apa yang diidamkan. Sebaliknya,
gagal adalah kondisi dimana Anda tidak berhasil meraih apa yang diharapkan.
Anda menginginkan kesuksesan dan menghindari kegagalan. Walau sukses merupakan
hal yang diidamkan, tapi tidak semua orang mempunyai pandangan yang sama
tentang arti sukses. Yang paling umum dipahami adalah sukses identik dengan
memiliki harta yang banyak, popularitas yang tinggi atau jabatan yang
bergengsi. Yang lain mengartikan sukses dengan tercapainya tujuan. Ada lagi
yang mengidentikkan sukses dengan memperoleh kebahagiaan. Berbagai pandangan
yang beragam tentang makna sukses tentu membuat arti sukses menjadi nisbi dan
beralih menjadi kata-kata tanpa makna. Apakah memang demikian?
Apakah tidak ada pengertian sukses yang
benar? Benar dalam arti memiliki argumentasi yang logis dan sesuai dengan
nilai-nilai universal? Apakah sukses dalam pengertian memperoleh kekayaan,
ketenaran dan kedudukan merupakan arti sukses yang sesungguhnya. Selain mencoba
memberikan jawaban terhadap makna sukses, tulisan ini juga akan mengungkap
rahasia kepada Anda tentang bagaimana cara memperoleh sukses yang benar secara
mudah dan tanpa henti. Tentu perlu ada upaya untuk memperoleh sukses tanpa
henti (unstoppable succsess). Akan tetapi sebelum Anda berupaya meraih sukses,
Anda perlu lebih dahulu memahami apa makna sukses yang sesungguhnya, sehingga
Anda tidak meletakkan ‘tangga pada tempat yang salah, sebelum menaikinya’. Hal
tersebut sama saja dengan kesia-siaan. Anda hanya akan menuai penyesalan, bukan
sukses yang sesungguhnya.
Tulisan tentang rahasia sukses dan
bagaimana cara memperolehnya ini sengaja dibuat praktis dan tidak terlalu
‘ilmiah’ agar para pembaca mudah memahaminya. Diharapkan pemikiran ini menjadi
bacaan ringan yang memberi pengaruh besar bagi perubahan diri Anda menuju
kesuksesan tanpa henti. Tulisan ini cocok untuk siapa saja, baik bagi Anda yang
sedang berusaha meraih sukses maupun untuk Anda yang telah memperoleh sukses.
Agar bermanfaat, saya anjurkan agar Anda membaca tulisan ini sampai selesai
dengan pikiran yang terbuka dan tanpa prasangka lebih dahulu.
Apa yang Dimaksud
Sukses?
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa
yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis
emas, perak, kuda pilihan, binatang-bintang ternak dan sawah ladang. Itulah
kesenangan hidup di dunia; dan si sisi Allahlah tempat kembali yang baik.”(QS. Ali-Imran [3] :
14)
Setiap orang pasti
ingin sukses. Tidak ada orang yang ingin hidupnya gagal. Ketika Anda sukses,
Anda merasakan keberhasilan mencapai cita-cita. Tidak peduli apapun cita-cita
tersebut. Ketika gagal, Anda merasakan kekecewaan dan kesedihan karena tidak
berhasil mencapai apa yang Anda idamkan. Sukses dan gagal menjadi dua kondisi
yang saling berlawanan. Sukses menjadi idaman setiap orang. Sedang gagal
menjadi momok yang dijauhi setiap orang.
Menurut Kamus Bahasa
Indonesia, sukses berarti berhasil atau beruntung. Sedang kesuksesan berarti
keberhasilan atau keberuntungan. Jadi sukses atau kesuksesan terkait erat
dengan pencapaian hasil atau keberuntungan karena mendapatkan sesuatu.
Sebaliknya tidak sukses adalah kegagalan untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Atau ketidakberuntungan karena tidak mendapatkan sesuatu.
Menurut John C.
Maxwell, sukses adalah mengetahui apa tujuan hidup Anda; bertumbuh untuk
mencapai kemampuan maksimal Anda; dan menabur benih untuk memberikan manfaat
kepada lainnya. Henry Wadsworth L menyebutkan sukses sebagai melakukan apa yang
dapat Anda kerjakan dengan baik dan melakukan sebaik-baiknya apa yang Anda
kerjakan. Sedang Napoleon Hill mengatakan sukses adalah mereka yang selalu
memberi, membentuk dan mengontrol egonya sendiri, tidak menyisakan tempat untuk
mengharapkan adanya keberuntungan atas tiap pekerjaan atau kesempatan, atau
atas segala perubahan nasib.
Apapun makna sukses
yang kita ketahui, namun kita lebih mudah mengucapkan kata ‘sukses’ daripada
mengalami kesuksesan itu sendiri. Kesuksesan menjadi kata ‘sakral’ yang sulit
diraih. Karena kebanyakan orang mengartikan sukses sebagai tujuan yang akan
diraih, bukan proses yang sedang dialami. Inilah yang membuat sukses menjadi
sekedar impian bagi banyak orang.
Bayangan kita tentang
sukses biasanya adalah bayangan tentang banyaknya halangan yang harus kita
lalui untuk memperoleh kesuksesan. Halangan yang sulit dan membutuhkan banyak
pengorbanan, sehingga akhirnya banyak orang menganggap sukses sebagai ilusi
yang tak mungkin terwujud.
Pandangan Umum tentang
Sukses
Yang terbayang dalam
benak sebagian orang tentang sukses adalah orang yang berhasil mengumpulkan
kekayaan. Punya harta melimpah, rumah yang besar dan mewah. Kendaraan model
terbaru dan jumlahnya lebih dari satu. Tanah yang dimilikinya ada dimana-mana.
Sering shopping dan travelling ke luar negeri. Pendek kata, apa saja kebutuhan
yang diinginkannya akan mudah terpenuhi karena banyak uang.
Sukses bagi kebanyakan
orang juga berarti ketenaran. Orang yang berhasil menjadi populer di
lingkungannya. Orang tersebut sukses karena namanya dikenal dan dikenang banyak
orang. Aktivitasnya sering dibicarakan dan diliput media massa. Ia menjadi
public figure. Biasanya, semakin populer seseorang semakin banyak pula harta
kekayaan yang dimilikinya.
Gambaran lain tentang
sukses adalah orang yang berhasil menduduki jabatan tinggi. Entah itu namanya
manajer, direktur, jenderal, menteri atau ketua sebuah organisasi. Apapun nama
jabatannya, jika organisasinya semakin besar dan jabatannya semakin tinggi,
maka orang menganggapnya sebagai kesuksesan. Biasanya, dengan jabatannya itu ia
bisa memperoleh apa saja, termasuk mudah memperoleh kekayaan dan ketenaran.
Kesuksesan yang
digambarkan banyak orang adalah kesuksesan dalam harta, popularitas dan
jabatan. Sukses seseorang biasanya diukur dari seberapa banyak harta yang
dimilikinya. Seberapa tinggi popularitasnya dan seberapa besar jabatannya.
Apalagi jika ketiga hal tersebut ada pada diri seseorang, maka semakin
sukseslah orang menganggapnya. Apakah anggapan ini salah? Tentu saja tidak!
Berhasil memperoleh kekayaan, populeritas dan kedudukan adalah kesuksesan. Kita
tidak dapat memungkiri bahwa orang yang kaya, terkenal dan memiliki jabatan
adalah orang sukses. Hal ini sudah merupakan anggapan umum.
Namun, pertanyaan yang
perlu direnungkan adalah apakah sukses karena harta, popularitas dan jabatan
merupakan kesuksesan yang sejati? Bagaimana jika orang yang kaya, tenar atau
berkedudukan itu justru sering gelisah, sedih atau tidak merasa bahagia?
Bukankah kondisi itu banyak terjadi di sekeliling kita?
Jadi apa indikator
yang lebih tepat untuk mengukur kesuksesan seseorang? Sebab ternyata harta,
popularitas dan jabatan tidak dapat dijadikan indikator bagi kesuksesan
seseorang. Adakah ukuran yang lebih tepat daripada ukuran harta, ketenaran dan
kedudukan dalam mengukur kesuksesan? Jika ada, apa itu? Dan bagaimana kita
mencapainya?
Inilah
pertanyan-pertanyan yang semestinya Anda jawab sebelum melangkah lebih jauh
untuk meraih sukses. Hidup hanyalah sekali. Oleh karena itu, janganlah Anda
sia-siakan hidup ini hanya untuk mengejar kesuksesan semu. Yaitu, kesuksesan
yang tidak jelas ukurannya karena sekedar mengikuti apa kata orang tentang arti
sukses. Ini ibarat bersusah payah naik tangga, padahal tangganya berada di
dinding yang salah. Hanya penyesalan yang akan didapatkan, karena segala jerih
payah kita ternyata sia-sia belaka. Kesuksesan yang perlu Anda raih adalah
kesuksesan yang bersandar pada pengertian yang benar tentang sukses itu
sendiri, sehingga hidup tidak menjadi sia-sia.
Mengapa Muncul
Kekeliruan tentang Pengertian Sukses?
Anggapan bahwa sukses
berarti kaya, tenar, atau berkedudukan muncul karena berbagai pengaruh yang ada
di sekitar kita. Pengaruh tersebut bisa datang dari keluarga, teman pergaulan,
pendidikan, sampai pada media massa yang ada di sekitar kita. Semuanya
seakan-akan sepakat untuk menonjolkan pengertian sukses hanya berupa kekayaan,
ketenaran, dan kedudukan. Tak ada kesuksesan selain tiga pengertian itu.
Begitu kuatnya
pengertian sukses yang identik dengan kekayaan, ketenaran dan kedudukan,
sehingga banyak orang yang hidupnya hanya mengejar ketiga hal tersebut. Bahkan
di antara mereka ada yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, yang
penting mereka bisa kaya, populer, atau memiliki jabatan.
Sikap hidup yang
dominan mengejar kekayaan, popularitas atau kedudukan sebenarnya tak bisa lepas
dari ideologi yang berkuasa di dunia saat ini. Setelah Uni Soviet dengan ideologi
komunismenya runtuh, maka Amerika dan Barat leluasa menyebarkan ideologi
kapitasme dan liberalismenya tanpa saingan. kapitalisme yang memunculkan pola
hidup materialisme mewabah kemana-mana. Liberalisme yang berdampak pada gaya
hidup permisifisme menyebar semakin marak ke belahan dunia timur. Didukung oleh
kekuatan media massa mereka yang besar, maka semakin banyak orang terpengaruh
dengan slogan-slogan kebebasan, hak azasi, dan keterbukaan yang mereka
dengungkan. Slogan tersebut sebetulnya tidak salah, yang salah adalah
penerapannya yang kebablasan dan hanya menonjolkan kenikmatan materil. Media
massa Barat selalu mengeksploitasi bahwa yang dimaksud sukses itu ukurannya
adalah harta, popularitas dan kedudukan.
Padahal secara kasat
mata kita dapat melihat banyak contoh yang menunjukkan kekayaan, populeritas,
dan kedudukan belum tentu membuat orang sukses. Ada orang yang justru hidupnya
menderita dan tidak bahagia karena harta, populeritas atau kedudukan yang
dimiliki. Salah satu contohnya adalah bintang film Home Alone Macaulay Culkin.
Culkin adalah seorang bocah lucu yang berbakat dalam dunia film. Ia berasal
dari keluarga yang berbahagia. Ayah dan ibunya hidup rukun walau mereka hidup
miskin. Bakat Culkin berakting menarik perhatian sutradara film Home Alone,
yang kemudian mengajaknya bermain dalam film tersebut. Home Alone akhirnya
menjadi film box office dan membuat nama Culkin terkenal. Honornya meningkat
drastis. Keluarganya yang miskin berubah menjadi kaya raya.
Namun ternyata
popularitas dan kekayaan tersebut berakibat buruk pada keluarganya.
Pertengkaran ayah dan ibunya semakin meningkat. Ayahnya ingin mengeksploitasi
Culkin. Sedang ibunya ingin agar Culkin berkembang wajar seperti anak-anak
lainnya. Seiring dengan meningkatnya popularitas dan kekayaan yang diterima
Culkin, hubungan antara ayah dan ibunya semakin tidak harmonis yang akhirnya
berujung pada perceraian. Culkin frustasi dan terlibat pada penggunaan obat
terlarang. Ia akhirnya menikah pada usia 19 tahun karena “kecelakaan” dengan
pacarnya. Hidup Culkin dan keluarganya justru tidak bahagia karena harta dan
popularitas. Kini Culkin mencoba merintis kembali karirnya dari bawah dengan
paradigma yang berbeda tentang arti kesuksesan.
Contoh lain adalah apa
yang menimpa Lady Diana, mantan istri putra mahkota Kerajaan Inggris, Pangeran
Charles. Hidup dengan gelimang harta, popularitas dan kedudukan yang tinggi tak
membuatnya bahagia. Suaminya, Charles, dianggap tak memberi cinta yang penuh
kepadanya. Charles ternyata lebih mencintai wanita lain, Camilla. Diana dan
Charles akhirnya bercerai. Padahal waktu itu banyak orang yang menganggap
mereka sebagai pasangan serasi. Diana kemudian bertualang dari satu pelukan
lelaki ke pelukan lelaki lain. Ia mencari cinta yang tak pernah didapatkannya.
Diana akhirnya tewas mengenaskan ketika mobil yang ditumpanginya bersama Dodi,
kekasihnya, menabrak dinding terowongan di jalanan kota Paris karena berusaha
menghindari kejaran paparazzi.
Masih banyak contoh
lain tentang orang-orang yang tak bahagia karena kekayaan, ketenaran dan
kedudukannya. Antara lain, apa yang menimpa Tina Turner, Jimmi Hendrix, Janis
Joplin, Brian Jones, dan Elvis Presley, yang mati over dosis karena merasa
kesepian di tengah ketenaran mereka sebagai rocker. Contoh lain, kegelisahan
yang dialami Christina Onasis, wanita kaya pewaris kerajaan minyak Onasis, yang
perkawinannya selalu kandas, sehingga ia mengaku kepada media sebagai orang
yang tak bahagia. Marilyn Monroe, Hitler, Stalin, Mussolini adalah nama-nama
lainnya, yang hidupnya tak bahagia di tengah-tengah kedudukan, kekayaan dan
popularitas yang mereka miliki.
Pada tahun 1923,
sebuah kelompok kecil orang-orang terkaya di dunia bertemu di hotel Edgewater
Beach di Chicago, Illinois. Pada saat itu, mereka mengendalikan uang lebih
besar daripada jumlah uang yang dimiliki Amerika Serikat. Disini adalah daftar
nama mereka dan apa yang akhirnya terjadi pada mereka :
·
Charles Schwab : presiden perusahaan baja mandiri terbesar, mati
dalam keadaan bangkrut.
·
Arthur Cutten : spekulan tepung yang terbesar, mati di luar
negeri dalam kondisi bangkrut.
·
Richard Witney : direktur bursa Saham New York, mati setelah
dibebaskan dari penjara Sing-Sing.
·
Albert Fall : anggota kabinet presiden Amerika Serikat, mandapat
pengampunan dari penjara dan mati di rumahnya.
·
Jess Livermore : investor terbesar Wall Street, mati bunuh diri.
·
Leon Fraser : direktur Bank Penyelesaian Internasional, mati
bunuh diri.
·
Ivan Kreuger : kepala monopoli terbesar dunia, mati bunuh diri.
Masih banyak ratusan
contoh lainnya yang menunjukkan kekayaan, ketenaran dan kedudukan bukanlah
ukuran kesuksesan. Mungkin jumlah orang yang gagal dan merasa tidak bahagia
dengan kedudukan, kekayaan atau populeritasnya lebih banyak daripada orang yang
merasa sukses dan bahagia dengan kedudukan, kekayaan dan ketenarannya.
Jadi, kekayaan,
ketenaran dan kedudukan bukanlah jaminan kesuksesan itu sendiri. Ia hanya
sarana untuk memperoleh sukses sebenarnya. Artinya, ada sukses yang lebih
tinggi nilainya dari sekedar kaya, tenar atau berkedudukan.