Nama
: Gerry May Biantoro
Npm : 33113688
Kelas : 3DB10
Keadilan
Allah untuk Seorang Penggembala
Seorang pemuda yang masih belia tampak begitu
kelelahan dan kehausan. Maka tatkala tiba di disuatu oase yang bening airnya
dengan tanaman rindang disekelilingnya, Penunggang Kuda itu menghentikan
kudanya dan turun ditempat tersebut. Ia berbaring, lalu meletakkan sebuah
bungkusan disampingnya. Matahari sangat terik, namun disitu amat teduh,
sehingga tanpa sengaja ia tertidur pulas setelah memuaskan dahaganya dengan
meminum air bening di oase tadi.
Ketika ia terjaga,
matahari mulai condong. Ia sedang mengejar waktu karena ibunya sakit keras.
Tampaknya ia anak seorang yang kaya raya, terlihat dari pakaiannya yang mewah
dan kudanya yang mahal. Dengan tergesa-gesa ia melompat ke punggung kuda dan
bungkusannya tertinggal karena ia hanya berpikir untuk segera tiba dirumah
menunggui ibunya yang sedang sekarat. Bapaknya sudah meninggal dibunuh orang
beberapa tahun yang lalu.Tidak lama setelah ia meninggalkan tempat tersebut,
seorang penggembala lewat ditempat tersebut. ia terkesima melihat ada sebuah
bungkusan kain tergeletak dibawah pohon. Diambilnya bungkusan itu, lalu
dibawanya pulang kegubuknya yang buruk.Alangkah gembiranya hati si anak gembala
tersebut tatkala melihat bungkusan tersebut ternyata isinya emas dan perak yang
sangat berharga. Ia yatim piatu dan masih kecil sehingga penemuan itu di
anggapnya merupakan hadiah baginya.
Tak berapa lama,
seorang kakek yang sudah bungkuk berjalan terseok-seok melalui oase tadi.
Karena kelelahan ia beristirahat di bawah pohon yang rimbun. Belum sempat ia
melepas lelah, anak muda penunggang kuda yang tertidur
sebelumnya dibawah pohon tadi datang hendak mengambil bungkusan yang
tertinggal.Tatkala ia sampai, alangkah terkejutnya pemuda tersebut melihat
bahwa dipohon tersebut tidak lagi menemukan bungkusan kain. Yang nampak
hanyalah seorang kakek. Maka pemuda itu dengan suara keras bertanya kepada si
kakek, "Mana bungkusan yang tadi disini ?"
"Saya tidak tahu," jawab kakek dengan gemetar.
"Jangan bohong !" bentak si Pemuda.
"Sungguh, waktu saya tiba disini, tidak ada apa-apa kecuali
kotoran kambing". jawab si kakek.
"Kurang ajar ! Kamu mau mempermainkan aku ? Pasti engkau
yang mengambil bungkusanku dan menyembunyikan di suatu tempat .. Ayo kembalikan
!"
"Bungkusan itu baru kuambil dari kawan ayahku sebagai
warisan yang telah dititipkan ayahku kepadanya untuk diserahkan kepadaku kalau
aku sudah dewasa, yaitu sekarang
ini. Kembalikan !" lanjut si Pemuda
"Sumpah tuan, saya tidak tahu," sahut kakek tersebut
makin ketakutan.
"Kurang ajar ! Bohong ! Ayo serahkan kembali. Bila tidak
,tahu rasa nanti" hardik Pemuda tadi.
Karena kakek itu tidak tahu apa-apa, maka ia tetap bersikeras
tidak melihat bungkusan tersebut. Si Pemuda tidak bisa dapat mengendalikan
kemarahannya lagi. Dicabutnya pedang pendek dari pinggangnya dan akhirnya kakek
tadi di bunuhnya. Setelah itu ia mencari kesana-kemari mencari bungkusan yang
ia tinggalkan. Akan tetapi tidak ditemukan. Setelah itu ia naik ke punggung
kuda dan memacunya ke rumahnya dengan perasaan marah dan kecewa.Berita ini
ditanyakan kepada Nabi Musa oleh salah seorang muridnya. "Wahai
Nabiyullah, bukankah cerita tersebut justru
menunjukan ketidak adilan Allah ?"
"Maksudmu ?" tanya Nabi Musa.
"Kakek itu tidak berdosa tetapi menanggung malapetaka yang
tidak patut diterimanya. Sedangkan si anak gembala yang mengantungi harta tadi
malah bebas tidak mendapatkan balasan yang setimpal".
"Menurutmu Tuhan tidak adil ?" ucap Nabi Musa
terbelalak.
"Masya Allah. Dengarkan baik-baik latar belakang
ceritanya". Kemudian Nabi Musa pun bercerita.
"Ketahuilah, dahulu ada seorang petani hartawan dirampok
semua perhiasan harta benda miliknya oleh dua orang bandit yang kejam. setelah berhasil
merampok, harta itu dibagi dua oleh perampok tersebut. Dalam pembagian harta
rampokan tersebut terjadi kecurangan oleh salah seorang bandit yang tamak
sehingga harta rampokkan tersebut dikuasainya sendiri setelah membunuh
kawannya. Bandit yang tamak itu adalah kakek yang di bunuh oleh pemuda tadi.
Sedangkan bandit yang dibunuh oleh kakek itu adalah ayah dari pemuda yang
membunuh kakek tadi. Disini berarti nyawa di bayar nyawa. Sedangkan petani yang
hartawan itu adalah ayah dari si pemuda gembala tadi yang mengambil bungkusan
kain tadi. Itulah keadilan Tuhan. Harta kekayaan telah kembali kepada yang
berhak dan kejahatan dua bandit tadi telah memperoleh balasan yang setimpal.
Meskipun peristiwanya tidak berlangsung tepat pada masanya".
Refleksi Hikmah :
Marilah kita melihat sejenak ke belakang. Ke masa lalu. Apakah
kita pernah melakukan sebuah kesalahan ? Minta maaf lah. dan carilah ridho dari
orang yang pernah kita dzalimi. Mungkin bukan kita yang akan merasakan dampak
buruk kesalahan kita. bisa jadi anak kita ataupun cucu cucu kita.
Apapun yang sudah kita
lakukan entah itu adalah sebuah kebaikan ataupun sebuah keburukan. Pasti akan
ada balasan yang setimpal bagi para pelakunya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar